<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dahlan Iskan</title>
	<atom:link href="http://dahlaniskan.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dahlaniskan.net</link>
	<description>Sederhana. Brilian. Pemimpin Yang Luar Biasa.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 08:15:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Atasi Kebutuhan Mendesak, Bangun Minihidro</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/atasi-kebutuhan-mendesak-bangun-minihidro/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/atasi-kebutuhan-mendesak-bangun-minihidro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[minihidro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Lima Hari CEO PLN Dahlan Iskan Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura.(2) Awan tiba-tiba datang berduyun-duyun. Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 WIT. Berarti sudah satu jam kami bercengkerama bersama penduduk suku Wamena di lereng [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><strong>Lima Hari CEO PLN Dahlan Iskan Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura.(2)</strong></p>
<p>Awan tiba-tiba datang berduyun-duyun. Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 WIT. Berarti sudah satu jam kami bercengkerama bersama penduduk suku Wamena di lereng Sungai Baliem itu. Termasuk sempat belajar meracik rokok ala penduduk Wamena yang kertasnya terbuat dari daun tertentu yang dikeringkan dan tembakaunya terbuat dari daun yang lain lagi yang dipadatkan.</p>
<p>Tapi, awan kian gelap saja. Mau tidak mau kami harus segera kembali ke Wamena: kembali harus berjalan kaki 15 km melalui halang rintang, tebing, bukit, dan jalan setapak yang licin itu. Kalau keduluan hujan, bisa-bisa lereng yang terjal menjadi lebih licin lagi.</p>
<p>Meski otot kaki sudah terkuras saat berangkat, awan yang kian gelap memaksa kaki untuk tetap melangkah pergi. Ayunan langkah memang terasa berat, tapi pikiran terasa ringan. Sudah ditemukan lokasi ideal untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar untuk daerah Wamena dan lima kabupaten pegunungan sekitarnya. Proyek ini akan kami namakan PLTA Baliem-2. Kelak ada kemungkinan bisa dibangun proyek Baliem-1 di hulunya dan Baliem-3 di hilirnya.?</p>
<p>Proyek Baliem-2 akan memakan biaya Rp 3 triliun. Sebuah bendungan raksasa harus dibangun di situ. Demikian juga terowongan air. Dan, yang pertama harus dilakukan adalah membangun jalan di lereng-lereng gunung itu sepanjang 35 km.</p>
<p>Dengan gambaran lokasi seperti itu kesulitan membangun proyek Baliem-2 sudah bisa dibayangkan. Bukan saja tidak ada jalan dari Wamena ke Baliem-2, bahkan tidak ada jalan menuju Wamena itu sendiri. Semua barang harus didatangkan dari Jayapura dengan pesawat. Mulai semen, baja sampai beras dan gula.?</p>
<p>Karena itu, Nasri Sebayang, direktur perencanaan dan teknologi PLN, harus membuat desain Baliem-2 yang tidak umum. Untuk membangun 50 MW tahap I saja, mungkin sampai memerlukan 10 turbin. Ini pun harus dengan cara yang rumit. Sebab, pada dasarnya pesawat menuju Wamena hanya bisa mengangkut turbin berukuran 1 MW. Akan dicoba menggunakan turbin 5 MW dengan cara dipreteli. Pasti tidak mungkin menggunakan turbin lebih besar dari 5 MW seperti di Jawa.</p>
<p>Ide-ide untuk bisa mengangkut ribuan ton material ke Wamena terus kami pikirkan. Apalagi, pertengahan tahun depan fisik proyek Baliem-2, setidaknya jalan akses, sudah harus dimulai.</p>
<p>Dalam keadaan kelelahan karena perjalanan pulang ke Wamena ini, kami paksakan berbelok dulu ke arah Sungai Walesi. Yakni, untuk melihat proyek minihidro: pembangkit listrik tenaga air berukuran kecil. Kami memang berencana memenuhi kebutuhan mendesak listrik Wamena saat ini dengan minihidro. Sedangkan proyek Baliem-2 yang baru selesai 5-6 tahun mendatang adalah untuk keperluan jangka panjang.</p>
<p>Di Sungai Walesi, ada empat minihidro yang sudah menghasilkan listrik. Satu lagi dalam uji coba. Lalu masih ada dua lagi yang kini dikerjakan fondasinya. Dengan demikian, pertengahan tahun depan Wamena sudah mendapatkan sekitar 4 MW dari tujuh minihidro di Walesi. Ini pun belum cukup. Kota Wamena terus berkembang dengan pesat. Jumlah mobil dan motor kini sudah mencapai 10.000 buah, dua kali lipat daripada lima tahun lalu.</p>
<p>Kota Wamena ternyata jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Dan, Wamena masih terus berkembang. Ini berarti kebutuhan listriknya terus meningkat.</p>
<p>Karena itu, kami segera memproses listrik swasta yang izin lokasinya sudah diberikan oleh bupati Wamena. Yakni, minihidro 6 MW yang letaknya sedikit di hilir minihidro milik PLN di Sungai Walesi. Investornya, pengusaha Papua, sanggup mengerjakannya paling lama 18 bulan. Sambil menunggu Baliem-2, kebutuhan listrik Wamena sudah akan terpenuhi 100 persen dari Sungai Walesi.</p>
<p>Ke depan, mesin-mesin genset akan kami matikan. Bukan hanya tidak ramah lingkungan, tapi juga sangat mahal. Bahan bakar untuk genset itu harus diangkut dengan pesawat dari Jayapura. Repotnya bukan main. Juga mahalnya. Setiap 1 kWh listrik memerlukan biaya bahan bakar saja Rp 6.000/kWh. Padahal, PLN menjual listrik kepada masyarakat hanya dengan Rp 650/kWh.</p>
<p>Saya membayangkan, kalau listrik Wamena sudah cukup akhir tahun depan, alangkah kian indahnya kota ini. Juga alangkah majunya. Potensi untuk maju sangat terbuka. Lembah Baliem bukanlah lembah yang sempit yang terjepit di sela-sela gunung. Lembah ini adalah lembah yang sangat luas, yang dikelilingi puncak-puncak gunung tinggi. Yang satu, puncak Gunung Ruphius, tingginya 4.070 meter. Satunya lagi, Gunung Van der Villigen, tingginya 3.500 meter. Masih ada gunung lagi, Puncak Trikora, 4.750 meter.</p>
<p>Begitu luasnya lembah ini sehingga potensi untuk berkembang tidak terhambat oleh lahan. Saya perkirakan lembah ini akan mampu menampung kemajuan yang membuatnya berpenduduk satu juta sekali pun. Kalau listrik cukup, hotel-hotel modern akan tumbuh dengan pesatnya. Wisatawan akan berdatangan. Kota ini tidak boleh menjadi miskin. Kemiskinan hanya akan merusak lingkungan dan keindahannya.</p>
<p>Wamena sebenarnya tidak bisa disebut lembah (valley). Dia lebih tepat disebut dataran tinggi (plateu), karena ketinggiannya yang 1.700 meter. Kini Wamena juga tidak bisa dikatakan sebagai kota yang sulit dijangkau. Jumlah penerbangan ke Wamena terus bertambah. Angkutan manusia praktis tidak ada masalah lagi. Yang jadi persoalan tinggal angkutan barang.</p>
<p>Gagasan membangun jalan darat dari arah utara (Jayapura) ke Wamena pernah terwujud pada akhir zaman Pak Harto. Termasuk sudah selesai dibangun jembatan besar di atas Sungai Membaramo yang terkenal itu. Badan jalannya pernah tersambung, tapi hancur lagi karena tidak ada biaya untuk mempertahankannya. Memelihara badan jalan sejauh 600 km (hampir sama dengan Jakarta-Surabaya) memang tidak mudah.</p>
<p>Kini muncul gagasan baru: Wamena ditembus dari selatan. Ada sungai besar yang muaranya di Laut Aru, tapi hulunya di Pegunungan Jayawijaya. Di hulu sungai inilah dibangun pelabuhan kecil untuk kemudian dibuat jalan darat mendaki menuju Wamena. Jaraknya kurang dari 60 km. Dengan demikian, barang-barang dari luar Papua diangkut dengan kapal, lalu dipindahkan ke tongkang menyusuri sungai selama 2?3 hari, dan diangkut mendaki dengan jalan baru menuju Wamena.</p>
<p>Saya sungguh tertarik dengan gagasan baru yang lebih realistik ini. (c2/lk)</p>
<p>Dahlan Iskan<br />
CEO PLN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/atasi-kebutuhan-mendesak-bangun-minihidro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketemu Lokasi PLTA Berkelas Emas, Kelelahan Lunas</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/ketemu-lokasi-plta-berkelas-emas-kelelahan-lunas/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/ketemu-lokasi-plta-berkelas-emas-kelelahan-lunas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 11:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[lokasi plta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Lima Hari CEO PLN Dahlan Iskan Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura.(1) Hujan turun sepanjang malam di Wamena. Sambil makan sahur di pedalaman Papua yang dingin itu, saya mengkhawatirkan gagalnya acara penting keesokan harinya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><strong>Lima Hari CEO PLN Dahlan Iskan Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura.(1)</strong></p>
<p>Hujan turun sepanjang malam di Wamena. Sambil makan sahur di pedalaman Papua yang dingin itu, saya mengkhawatirkan gagalnya acara penting keesokan harinya: ekspedisi menyusuri tebing Sungai Baliem. Mencari lokasi yang cocok untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bagi penduduk pegunungan tengah Papua.</p>
<p>Pagi itu kami, empat direksi, pimpinan PLN setempat, dan beberapa penunjuk jalan, berangkat diiringi rintik-rintik hujan. Panitia membagikan topi Mbah Surip untuk mengurangi rasa dingin. Dua dokter membawa peralatan medis. Seorang lagi memanggul tabung oksigen.</p>
<p>Setelah 15 menit naik mobil melewati jembatan Sungai Walesi yang lagi ambles digerus banjir, jalan aspal itu tiba-tiba putus. Gunung besar di kanan jalan tersebut, rupanya, longsor menjadi banjir bandang yang menghancurkan apa saja, tak terkecuali jalan aspal itu. Mirip yang terjadi di Wasior, Papua Barat, yang menewaskan ratusan orang itu. Hancurnya jalan raya tersebut membuat banyak anak sekolah harus berjalan kaki sejauh 10 km setiap hari.</p>
<p>Kami pun mulai masuk ke tanah setapak menuruni gunung yang terjal, meloncati sungai kecil, naik lagi ke bukit, menyusuri bibir jurang yang curam, merayapi tebing yang berbatu, dan sesekali kepeleset jalan yang licin. Keringat mulai bercucuran. Jaket dan penutup telinga tidak lagi berfungsi. Gerimis sudah lama berhenti dan langit mulai membiru.</p>
<p>Penduduk setempat, yakni Suku Wamena yang berwajah cendekia, bertanam hortikultura di tebing-tebing seperti itu: ketela, kentang, wortel, berbagai jenis keladi, jagung, jahe, kecipir, dan sebangsanya. Keladi Wamena, apalagi yang berwarna ungu, luar biasa enaknya. Dua malam di Wamena, saya tidak henti-hentinya menikmati keladi ungu itu.</p>
<p>Ketergantungan pada tanaman setempat itulah, rupanya, yang mengakibatkan penduduk terkena bencana kelaparan yang menghebohkan lima tahun lalu ketika terjadi kemarau panjang di situ. Saat ini, dengan hujan yang cukup, semua tanaman kelihatan memberikan harapan. Dan, babi-babi yang berkeliaran di setiap pekarangan kelihatan gemuk-gemulai.</p>
<p>Banyaknya babi itu pula yang mengakibatkan perjalanan ini lebih berat lagi. Penduduk umumnya membuat pagar batu yang menutup jalan setapak tersebut untuk menghalangi babi merusak tanaman. Tapi, kami bukan babi sehingga selalu mampu melompatinya, meski kadang harus merayapinya. Atau, harus dengan cara menaiki sebatang kayu. Sesekali memerlukan pertolongan orang lain agar pantat bisa terangkat.</p>
<p>Bahwa ekspedisi ini tidak menyiksa, semata-mata karena kami memang sedang dalam antusiasme yang tinggi untuk menemukan lokasi PLTA itu. Apalagi, kami bisa menikmati pemandangan yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain: alami tapi eksotis. Menengok ke kanan atas, kami melihat perbukitan yang berebut menuding langit. Menengok ke kiri bawah, kami melihat aliran sungai yang berbatu dengan suara air deras yang mistis. Sesekali kami berpapasan dengan banyak anak muda, laki-perempuan, dari Spanyol yang ternyata sangat menyukai wisata jenis ini.?</p>
<p>Yang membuat perjalanan ini juga asyik adalah suhu udara yang sejuk. Seperti di Eropa pada bulan Oktober. Hampir sepanjang tahun Tuhan memberikan AC secara gratis. Siang dan malam. Tidak pilih kasih: manusia, sungai-sungai, gunung-gunung, babi-babi, beserta aneka tanaman di seluruh Wamena. Karena itu, tidak ada hotel atau rumah yang pasang AC.</p>
<p>Ketinggian Wamena yang 1.700 meter di atas laut membuatnya sejuk sepanjang tahun. Sejuk yang nyaman karena humidity yang cukup. Tidak seperti dingin di Eropa yang amat kering yang sering membuat bibir pecah berdarah.</p>
<p>Lebih sedikit dari pukul 11.00, kami sudah tiba di lokasi yang diimpikan. Yakni, satu lokasi yang aliran sungainya menyempit. Kanan-kirinya gunung yang tinggi dan tebingnya terjal. Aliran airnya sangat deras pertanda di hilirnya masih sangat curam. Adanya belokan setelah tebing yang sempit itu sungguh ideal. Gambaran seperti itulah yang sangat cocok untuk sebuah hydro-power. Syarat-syarat untuk dibangunnya PLTA terpenuhi semua. Inilah lokasi yang dikategorikan berkelas emas.</p>
<p>Bersama penduduk setempat, tua-muda, anak-anak dan remaja, gadis-gadis dan ibunya, kami duduk di lereng bukit itu menghadap ke arah lembah aliran sungai. Kelelahan seperti terbayar lunas. Kami sangat menikmati pemandangan sambil beristirahat. Hanya Nur Pamudji, direktur energi primer PLN, yang selama istirahat satu jam itu tetap berdiri. Sebagai pendaki gunung yang andal, dia memberitahukan resep ini: jangan istirahat sampai duduk atau berbaring! Itu akan membuat perjalanan berikutnya lebih berat. Dia tahu, kami tidak boleh lengah karena masih harus kembali menyusuri jalan pulang yang sama beratnya.</p>
<p>Saya bukan pendaki gunung, tapi saya optimistis bisa melakukan perjalanan ini. Saya pernah jalan kaki dari Makkah ke Arafah sejauh 45 km. Yakni, waktu naik haji. Kembali ke Makkah keesokannya juga berjalan kaki. Hanya, saya sekarang sudah 20 tahun lebih tua. Dan masih berstatus pasien transplantasi hati.</p>
<p>Tentu, kami ingin lebih lama di lereng bukit itu. Kami seperti sedang jatuh cinta dengan tanah Wamena. Apalagi, di lokasi itu, kami bisa berkumpul dengan warga setempat dalam suasana yang santai dan akrab. Dialog pun penuh perhatian serta tawa. Mereka mengerti dengan baik bahasa Indonesia. Hanya, kalau mengajukan pertanyaan, masih merasa nyaman dengan bahasa Wamena. Dengan tulus mereka juga mengingatkan agar kami berhati-hati dalam membangun proyek raksasa ini. Gunung-gunung berbatu yang kelihatannya keras itu pada dasarnya mudah longsor.</p>
<p>Merasakan keakraban itu, saya menyesal seandainya tidak jadi ke pedalaman Papua hanya gara-gara berita media yang menggambarkan rusuhnya wilayah tersebut sehari sebelum saya berangkat dari Jakarta. Banyak sahabat yang mencegah saya berangkat Rabu lalu, tapi feeling saya mengatakan akan baik-baik saja.</p>
<p>Rasa kekeluargaan penduduk pedalaman itu juga sangat menonjol. Setiap berpapasan dengan orang yang sama-sama menggunakan jalan setapak itu, mereka selalu mengajak bersalaman. Salamannya pun sangat kuat. Pertanda ingin menjalin persaudaraan dan kepercayaan. Bahkan, beberapa kali, sambil bersalaman itu, mereka sampai merangkul pundak saya.</p>
<p>Tegur sapa seperti itu tidak hanya di jalan setapak, tapi juga di ladang-ladang hortikultura. Melihat kami melintas di situ, seorang petani yang menggarap tanah di lereng bawah sana mendongakkan kepala dan berteriak menyapa. Sebuah keramahan pegunungan yang mestinya bisa melahirkan berkoli-koli puisi. (c5/lk)</p>
<p>Dahlan Iskan<br />
CEO PLN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/ketemu-lokasi-plta-berkelas-emas-kelelahan-lunas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Murah yang Membuat Marah</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/murah-yang-membuat-marah/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/murah-yang-membuat-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 10:11:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[murah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[He he… ternyata ada juga yang tidak senang dengan diturunkannya biaya penyambungan listrik sekarang ini. Di Blega, Madura, sejumlah orang berdemo ke PLN setempat. Demo itu menghebohkan karena sempat memblokade [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>He he… ternyata ada juga yang tidak senang dengan diturunkannya biaya penyambungan listrik sekarang ini. Di Blega, Madura, sejumlah orang berdemo ke PLN setempat. Demo itu menghebohkan karena sempat memblokade jalan utama trans Madura. DPRD Bangkalan pun turun tangan dan memanggil pejabat PLN setempat. Di forum yang terhormat itu, sampai keluar kata-kata kasar dari yang terhormat untuk PLN.</p>
<p>Tuntutan pendemo itu kelihatannya memang sangat masuk akal mereka. Inilah aspirasi mereka: “Kalau sekarang bisa begitu murah, berarti yang dulu-dulu itu kemahalan. PLN harus mengembalikan uang selisih kemahalan yang dulu-dulu itu”. Begitu logika mereka.</p>
<p>Di seluruh Indonesia, orang memang kaget melihat murahnya biaya penyambungan listrik sekarang ini. Tapi, hanya di Madura itu yang menuntut pengembalian uang kemahalan pada masa lalu. Di Madura pun hanya terjadi di Blega itu.</p>
<p>Padahal, sebenarnya PLN tidak menurunkan biaya penyambungan. Bahkan, sedikit menaikkannya. Terutama untuk permintaan penyambungan dengan daya agak besar. Yang kami lakukan hanyalah: menerapkan tarif resmi itu apa adanya. Tidak boleh ada embel-embelnya. Apa pun istilahnya. Maka, kelihatannya lantas seperti turun drastis.</p>
<p>Dulu, kata mereka, untuk mendapat sambungan listrik, harus membayar Rp 2 juta, Rp 2,5 juta, bahkan sampai Rp 4 juta. Kok sekarang untuk beban yang sama hanya Rp 650 ribu. Kaget yang berlebihan kelihatannya memang tidak baik. Bisa membuat orang berdemo seperti di Blega itu.</p>
<p>Di samping hanya mengenakan tarif resmi, PLN kini juga tidak mau mencampur-adukkan biaya penyambungan dengan biaya-biaya lain yang mungkin dikenakan kepada calon pelanggan. Hanya biaya penyambunganlah (biasa disingkat BP) yang terkait dengan PLN. Kalau ada biaya-biaya lain, itu di luar ranah PLN dan mestinya jangan dikaitkan dengan PLN.</p>
<p><span id="more-105"></span>Dalam hal melakukan penyambungan, tugas PLN itu sebenarnya terbatas. Tidak masuk akal kalau harus minta biaya yang jutaan. Untuk penyambungan baru, tugas PLN itu hanyalah menarik kabel tegangan rendah dari jaringan PLN ke atap rumah, lalu memasang meteran dan memasangMCB. Habis. Berarti, listrik sudah tersambung dan siap digunakan.</p>
<p>Soal bagaimana menggunakannya, perlu berapa bola lampu, kamar mana saja, berapa buah stop kontak, itu bukan urusan PLN. Bukan tugas PLN untuk memasang kabel-kabelnya, stop kontaknya, lampunya, dan segala macam yang ada di rumah tersebut. Itu tugas pemilik rumah sendiri. Itu sudah menyangkut kebutuhan pemilik rumah yang skala keperluannya berbeda-beda.</p>
<p>Pemilik rumah atau kantor biasanya tidak memiliki kemampuan melakukan sendiri. Mereka umumnya minta bantuan kontraktor listrik. Itu terserah sepenuhnya kepada pemilik rumah. Mau cari kontraktor yang murah atau mahal, PLN tidak boleh campur tangan.</p>
<p>Entah mau dikerjakan sendiri atau minta bantuan kontraktor, yang jelas instalasi di rumah-rumah tersebut tidak boleh sembarangan. Ada aturannya. Bukan aturan dari PLN, tapi dari pemerintah. Untuk itu, ada lembaga yang mengontrol, apakah jaringan di dalam rumah tersebut sudah benar atau belum. Lembaga tersebut bernama Konsuil. Bukan PLN. Lembaga Konsuil itu dibentuk pemerintah. Tidak ada hubungan sama sekali dengan PLN.</p>
<p>Tapi, masyarakat umumnya memang salah duga. Semua itu dikira masih kalangan PLN. Pokoknya, semua hal yang berkaitan dengan listrik dikira menjadi tugas dan tanggung jawab PLN.</p>
<p>Anggapan salah masyarakat itu sebenarnya tidak salah-salah amat. Orang-orang yang ditunjuk pemerintah untuk duduk di Konsuil, misalnya, umumnya adalah pensiunan karyawan PLN. Penampilan dan gaya petugas-petugas kontraktor listrik pun tidak berbeda dari orang PLN. Apalagi alat-alatnya. Persis milik PLN.</p>
<p>Pada masa lalu, memang ada semangat agar semua lembaga yang terkait dengan listrik bekerja sama dengan sebaik-baiknya. PLN sendiri pernah memberikan fasilitas agar mereka itu berkantor saja di PLN! Pembayaran-pembayaran untuk mereka sekalian saja dijadikan satu dengan biaya untuk PLN. Begitu erat hubungan itu, sehingga ada istilah sudah dan harus seperti suami-istri.</p>
<p>Inilah yang berubah sekarang. Hubungan itu tidak boleh seperti suami-istri. Hubungan antara PLN, kontraktor listrik, dan Konsuil haruslah hubungan profesional.</p>
<p>Dari sinilah lantas diketahui berapa sebenarnya biaya penyambungan yang dikenakan PLN tersebut. Lalu, banyak yang terkaget-kaget. Lalu, ada yang berdemo seperti yang di Blega itu. Namun, kalau saya Minggu pagi lalu ke Blega, itu bukan hanya karena ada masalah kekagetan tersebut. Kebetulan, saya memang ingin melakukan klarifikasi banyak hal yang selama ini mengganjal di hati. Misalnya, mengapa susut listrik (kehilangan listrik) di Madura itu yang tertinggi di Indonesia.</p>
<p>Saya sungguh tidak enak mendengarnya. Persentase susut listrik di Madura mencapai 20 persen. Padahal, di kabupaten-kabupaten lain di Jawa hanya sekitar 7 persen. Saya sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya tidak percaya hal itu merupakan wajah Madura yang sebenarnya.</p>
<p>Besarnya susut listrik di Madura tersebut sebagian ternyata memang karena struktural. Lima gardu induk (GI) yang ada di Madura semua berada di pantai selatan. Akibatnya, penduduk di sepanjang pantai utara harus dikirimi listrik dari jaringan 20 kv. Kalau di pantai utara dibangun satu atau dua GI, susut itu sudah akan turun sekitar 5 persen sendiri. Jaringan kabel 20 kv yang terlalu panjang memang menjadi salah satu penyebab susutnya daya listrik.</p>
<p>Masih ada yang lebih mendasar. Hampir 100 persen pelanggan listrik di Madura adalah rumah tangga. Pelanggan besar yang dilayani dengan tegangan menengah (TM) hanya 0,9 persen. Kalau saja ada pabrik yang cukup besar di Madura, komposisi pelanggan akan berubah dan susut listrik bisa membaik. “Kalau ada beberapa pabrik yang mampu menyerap listrik 40 MW saja, susut listrik bisa turun lagi 5 persen,” ujar Bintoro, manajer APJ Madura. “Atau, kalau satu pabrik semen saja berdiri di Madura, sudah bisa memperbaiki struktur listrik di Madura yang lemah,” tambahnya.</p>
<p>Maka, saya akan mengusahakan berdirinya GI di pantai utara Madura. Sekaligus untuk antisipasi siapa tahu para bupati di Madura benar-benar akan mengembangkan kawasan itu sebagai pusat pengembangan ekonomi. Apalagi, PLN sudah memutuskan untuk membangun pembangkit listrik besar di situ yang sekarang tahapnya tender proyek.</p>
<p>Ada agenda lain yang tidak sempat saya lihat di Madura. Yakni, melihat layang-layang Madura. Bulan-bulan ini adalah musim layangan yang paling top di Madura. Ribuan jumlahnya. Besar-besar ukurannya. Menarik desainnya. Dan di waktu malam lebih-lebih lagi menakjubkannya: layang-layang itu berlampu! Ada lampu LED di setiap mainan itu. Betapa banyaknya kerlip lampu di langit. Mengalahkan jumlah bintang yang ada.</p>
<p>Pada musim layang-layang seperti ini, teman-teman PLN Madura pusing kepala. Kian besar layangannya, kian berat pusingnya. Di larut malam, ketika angin sudah surut, banyak layangan yang hinggap ke jaringan listrik. Terjadilah gangguan di mana-mana.</p>
<p>Ada ide agar pemda mengeluarkan larangan main layang-layang. Saya tidak setuju dengan ide itu. Kepada teman-teman di Madura, saya anjurkan justru PLN harus mengadakan lomba layang-layang secara besar-besaran. Kalau perlu memperebutkan Piala Dirut PLN! Soal ancaman gangguan listrik, harus dicarikan cara yang lebih cerdas. Dalam lomba itu, bisa saja sekaligus dilombakan bagaimana mendesain layang-layang yang aman bagi listrik. Pasti akan banyak yang menyumbangkan ide itu.</p>
<p>Sebelum meninggalkan Blega, saya bertanya kepada manajer PLN Madura. Anaknya muda, tinggi (185), ganteng, dan bicaranya firm. Lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Diponegoro itu pernah dua tahun bertugas di Madura dan kini kembali ke Madura lagi dalam posisi memimpin. Berikut ini dialog saya dengan Bintoro, manajer itu:</p>
<p>- Apakah Anda menyesal telah menerapkan tarif biaya penyambungan yang murah itu?</p>
<p>+ Tentu tidak, Pak.</p>
<p>- Tapi, kan menimbulkan demo?</p>
<p>+ Demo itu baik juga, Pak. Biar orang tahu bahwa biaya penyambungan itu sebenarnya tidak semahal itu.</p>
<p>- Tapi, bagaimana dengan permintaan uang kembali itu?</p>
<p>+ Akan saya anjurkan agar mereka minta saja kepada siapa dulu mereka membayar.</p>
<p>- Kalau mereka bilang membayarnya kepada orang PLN?</p>
<p>+ Tunjukkan saja siapa orangnya. Biar saya pecatnya! (*)</p>
<p>Dahlan Iskan<br />
CEO PLN</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/murah-yang-membuat-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senggolan Nazarudin</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/senggolan-nazarudin/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/senggolan-nazarudin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 08:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[senggolan nazarudin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Dua kali nama PLN disenggol sedikit dalam kaitan dengan Nazaruddin yang kini lagi buron itu. Yang pertama PLN dikaitkan dengan tender batubara yang sampai membuat Nazaruddin bertengkar dengan partner bisnisnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Dua kali nama PLN disenggol sedikit dalam kaitan dengan Nazaruddin yang kini lagi buron itu. Yang pertama PLN dikaitkan dengan tender batubara yang sampai membuat Nazaruddin bertengkar dengan partner bisnisnya. Yang kedua sekarang ini dalam kaitan dengan tender proyek PLTU Kaltim/Riau. Saya senang dua hal itu disebut-sebut. Pertama saya bisa numpang ngetop sebentar.Kedua,saya memiliki momentum untuk mengkampanyekan “PLN baru”.</p>
<p>Soal batubara itu misalnya. Konon Nazaruddin memberi uang kepada Daniel Sinambela untuk modal ikut tender batubara di PLN. Daniel menang tender tapi tidak mengembalikan uangnya Nazaruddin. Daniel kemudian dihajar Nazaruddin. Daniel masuk tahanan. Yang terjadi adalah Daniel sebenarnya benar-benar menang tender. Bukan karena ada Nazaruddin didalamnya. Tender itu dilakukan dengan system auction, sehingga tidak ada peluang untuk diatur samasekali. Semua orang tahu system auction itu begitu transparansinya sehingga sangat kecil peluang untuk terjadi permainan. Daniel menang tender karena penawaran harganya memang sangat-sangat rendah.</p>
<p>Saking rendahnya, Daniel barangkali kesulitan mencari batubara yang baik dengan harga yang masih bisa memberikan keuntungan baginya. Maka batubara yang dikirim ke PLN pun batubara yang murah. Tentu tidak bisa memenuhi kualitas yang ditentukan PLN. Yang hebat, petugas PLN di lapangan berani menolak batubara ribuan ton tersebut. Akibat batubara Daniel ditolak oleh PLN, Daniel tidak mendapatkan uang dari PLN. Karena itu Daniel juga tidak bisa mengembalikan uangnya Nazaruddin. Nazaruddin pun kehilangan uang puluhan miliar rupiah gara-gara ketegasan PLN.</p>
<p>Seandainya petugas PLN takut kepada Nazaruddin dan menerima begitu saja batubara yang jelek itu tentu Nazaruddin bisa menyelamatkan uang nya yang puuhan miliar itu. Namun karena batubaranya ditolak maka lenyap kan uangnya yang sangat besar itu. Dalam hal ini saya bangga dengan petugas PLN di barisan paling depan tersebut. Seandainya pegawai PLN tersebut bisa disogok tentu semuanya beres. Toh batubara jelek itu sebentar lagi sudah tercampur dengan batubara ribuan ton lainnya. Tidak akan gampang ketahuan.</p>
<p>Tentu saja saya bangga dengan pegawai PLN di bagian penerimaan batubara itu. Saking bangganya sampai-sampai di DPR saya berseloroh : kalau saja petugas itu seorang wanita akan langsung saya ciumi dia!</p>
<p>Bagaimana dengan tender PLTU Kaltim/Riau yang disebut-sebut Nazaruddin sekarang ini?</p>
<p>Saya pun penasaran. Sungguh saya pun ingin tahu apa yang sebenarny aterjadi ?</p>
<p>Tender tersebut dimenangkan oleh konsorsium PT Adhikarya (Kaltim)dan konsorsium Rekayasa Industri (Riau). Sudah saya cek berulang-ulang bahwa proses tender sangat bersih dan profesional. Sampai-sampai teman terbaik saya yang telah berjasa menyelamatkan hidup saya kalah di tender ini.</p>
<p>Pertanyaannya : siapakah yang memberi uang kepada Nazaruddin terkait dengan proyek ini?</p>
<p>Apakah orang PLN ? Atau pemenang tender ?Sebaiknya ini diusut. Saya sangat berkepentingan dengan hasil pengusutan ini. Kalau orang PLN yang memberikan uang, darimana asal-usul uang itu dan dengan tujuan apa?</p>
<p>Namun kalau, misalnya, pemenang tender yang memberi uang ke Nazaruddin, untuk apa dia memberi uang?</p>
<p>Bukankah dia menang tender bukan karena bantuan Nazaruddin ?</p>
<p>Apakah justru dia mengira menang tender itu berkat dukungan Nazaruddin ?</p>
<p>Tentu saya tidak tahu. Saya justru bertanya-tanya dalam hati. Kalau benar begitu untuk apa pemenang tender itu memberi uang ke Nazaruddin ? Sedekah ? Sumbangan?</p>
<p>Mestinya itu bukan sogok karena dia memenangkan tender bukan karena jasa Nazaruddin. Saya penasaran atas pertanyaan-pertanyaan saya sendiri itu. Karena itu saya mencoba mencari tahu.</p>
<p>Hasil penelusuran saya agak mengecewakan : ternyata masih banyak peserta tender yang tidak percaya diri akan kemampuan mereka,lalu punya backing orang kuat. Mereka belum percaya bahwa PLN sudah berubah. Mereka belum percaya bahwa di PLN bisa berubah. Mereka tidak percaya bahwa backing itu sekarang tidak ada gunanya. Itulah sebabnya mengapa masih ada peserta tender yang merasa perlu memiliki backing.</p>
<p>Keberadaan backing itu sendiri punya dua cerita. Ada peserta tender yang memang mencari backing. Ada juga justru si backing yang mencari-cari peserta tender. Terutama, yang diincar adalah peserta yang sudah kelihatan punya peluang untuk menang. Si backing lantas menakut-nakuti si peserta tender kalau dia tidak dikawal bisa saja kalah.</p>
<p>Emosi peserta tender itu pun menjadi labil. Di satu pihak dia sudah berada di ambang kemenangan. Peserta yang lolos tender tinggal sedikit, katakanlah tiga. Kejiwaannya pun menjadi kemrungsung. Dalam keadaan kemrungsung seperti itu dia ditakut-takuti oleh si backing. Kalau tidak pakai backing dia akan dikalahkan. Ketika mengucapkan kata “akan dikalahkan” itu bisa saja si backing seolah-olah sudah bicara dengan pemilik proyek. Dalam situasi seperti itu peserta tender memilih jalan yang paling save : diterima saja tawaran backing itu.</p>
<p>Celakanya tidak mustahil si backing tidak hanya mendatangi satu peserta tapi juga peserta tender lainnya. Dengan demikian siapapun yang menang backing pulalah yang paling menang. Saya sudah bisa menemukan cara bagaimana menyelenggarakan tender yang bersih. Bahkan sudah mempraktekkannya setahun terakhir ini. Tender-tender di PLN tidak akan terpengaruh oleh backing siapapun.</p>
<p>Bahkan dalam tender terbesar dalam sejarah PLN bulan lalu, yakni tender proyek Rp 30 triliun di Jateng, PLN berhasil mengabaikan tekanan para backing yang tidak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Proyek Kaltim dan Riau itu tidak ada apa-apanya dibanding proyek di Jateng itu. Tapi PLN berhasil lolos dari segala tekanan. PLN sudah tahu bagaimana menyelenggarakan tender yang bersih, tapi belum tahu bagaimana cara meyakinkan peseta tender agar menyadari bahwa backing sudah tidak ada gunanya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/senggolan-nazarudin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecelakaan Kereta Cepat yang Mendebarkan</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/kecelakaan-kereta-cepat-yang-mendebarkan/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/kecelakaan-kereta-cepat-yang-mendebarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 11:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan kereta cepat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Berita terjadinya tabrakan kereta cepat di Tiongkok Sabtu malam (23/7) waktu setempat, tentu mengejutkan saya. Apalagi kecelakaan yang menewaskan 35 orang dan melukai 200 orang lebih itu terjadi hanya satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Berita terjadinya tabrakan kereta cepat di Tiongkok Sabtu malam (23/7) waktu setempat, tentu mengejutkan saya. Apalagi kecelakaan yang menewaskan 35 orang dan melukai 200 orang lebih itu terjadi hanya satu minggu setelah saya mencoba menggunakan kereta cepat yang baru di sana saat bepergian dari Beijing ke Shanghai.</p>
<p>Lebih mengagetkan lagi, karena penyebab kecelakaan kali ini sama dengan penyebab terhentinya kereta cepat Beijing-Shanghai. Yakni sistem listriknya disambar petir. Dalam dua minggu pertama beroperasinya kereta peluru Beijing-Shanghai, terjadi tiga kali kereta tiba-tiba berhenti karena sistem listriknya tiba-tiba tidak berfungsi. Yakni setelah sistem itu disambar petir.</p>
<p>Tentu ngeri membayangkan, bagaimana kereta cepat tiba-tiba berhenti, kemudian ditabrak oleh kereta cepat yang datang berikutnya dari belakang seperti yang terjadi Sabtu malam itu. Berarti, ada dua sistem yang rusak. Di samping sistem <em>relay</em> untuk mencegah pengaruh petir, juga sistem informasi otomatis yang mestinya bisa menghentikan kereta cepat berikutnya.</p>
<p>Saya terus mengikuti perkembangan kecelakaan itu lewat berbagai jalur informasi. Ternyata, yang terlibat kecelakaan ini bukan kereta peluru generasi terbaru seperti jurusan Beijing-Shanghai. Ini kereta peluru generasi pertama yang kecepatannya masih 170 km/jam. Seperti yang saya naiki minggu lalu darikotaChengdukeChongqing.</p>
<p>Setelah generasi ini, lahir generasi kecepatan 350 km/jam. Seperti untuk jurusan Beijing-Tianjin atau Shanghai-Hangzhou. Lalu, lahir pula generasi berikutnya dengan kecepatan 300 (tepatnya 312 km/jam) seperti yang baru saja saya naiki dariBeijingkeShanghai. Dalam waktu dekat, akan lahir generasi yang dianggap paling tepat, yakni generasi yang kecepatannya 270 km/jam. Yang terakhir itu dianggap tepat karena dari segi kecepatan sudah sangat cepat, dari segi biaya sangat effisien dan dari segi biaya operasi penggunaan listrik paling rendah.</p>
<p>Sekarang ini, Tiongkok sudah memiliki rute sepanjang 8.000 km untuk kereta peluru generasi pertama. Ditambah dengan yang generasi berikutnya, akhir tahun ini akan mencapai hampir 9.000 km. Akhir tahun depan mencapai 13.000 km. Dan akhir tahun 2015 sudah mencapai 16.000 km. Pertumbuhan rute kereta cepat sangat fantastis disana.</p>
<p>Tentu ancaman petir ini sangat serius. Saya jadi takut untuk mencobanya lagi, terutama di bulan-bulan Juli dan Agustus seperti ini. Dua bulan ini adalah bulan datangnya hujan, badai, petir dan taifun di bagian timur Tiongkok sampai ke Hongkong danTaiwan.Wenzhou,kotaterjadinya kecelakaan kemarin, termasuk di kawasan pantai timur yang menjadi langganan cuaca ekstrem itu.</p>
<p>Kereta yang terlibat kecelakaan itu sebenarnya sudah hampir masuk stasiunWenzhou. Sudah di pinggirkota. Tiba-tiba petir menyambar dan kereta berhenti mendadak. Malam yang gelap karena cuaca menjadi lebih gelap karena listrik di kereta juga mati. Beberapa menit kemudian tiba-tiba blaaaar! Kereta cepat berikutnya datang dan menabrak dengan keras. Gerbong-gerbong, baik yang ditabrak maupun yang menabrak anjlok keluar rel. Empat gerbong terjun ke jurang, salah satunya masih menggantung di bibir jembatan. Mayat-mayat segera diangkut ke rumah sakit dan yang selamat dikumpulkan di sekolahan setempat.</p>
<p>Daerah Wenzhou ini topografinya memang penuh pegunungan dan jurang. Saya pernah naik kereta (lama) dariWenzhouke Jinhua. Kereta selalu merayat di sela-sela gunung dan di bibir jurang. Tapi untuk kereta cepat ini sudah ada jalur baru. Gunung-gunung diterobos dengan terowongan dan lembah-lembah diatasi dengan rel layang. Kecelakaan itu terjadi di kawasan rel layang ini, sehingga kalau ada jembatan di situ bukanlah jembatan karena ada sungai.</p>
<p>Kereta yang tersambar petir tersebut adalah kereta untuk jurusanHangzhou(ibukota propinsiZhejiang) menujuFuzhou(ibukota propinsiFujian). Kota Wenzhou, lokasi kecelakaan itu ada di tengah perjalanan.Wenzhousendiri adalah kawasan dagang yang paling menonjol di Tiongkok karena orangWenzhoudikenal paling pandai dagang di seluruh Tiongkok. Untuk Tiongkok,Wenzhouadalah Belandanya Eropa.</p>
<p>Ketika zaman politik jadi panglima di Tiongkok pun orang Wenzhou tetap bisa berdagang secara diam-diam. Karena itu pedagangan dan peredaran uang bawah tanah sangat menonjol di Wenzhou.</p>
<p>Sepulang dari Tiongkok, kemarin saya harus ke Salatiga dekatSemarang. Lalu ke Solo. Dari Solo saya naik kereta api Argo Wilis ke Surabaya. Ini karena hari Minggu pagi kemarin saya harus ke Madura.</p>
<p>Naik Argo Wilis Solo-Surabaya ternyata enak juga. Naik kereta yang lebih lambat perasaan lebih tenang. Apalagi gerbong dan toiletnya juga selalu dibersihkan. Saya melihat ada kemajuan yang besar dalam pelayanan kereta api diIndonesia. Terutama sejak Dirut PT KAI-nya dipegang Jonathan, arek Suroboyo yang nekat itu.</p>
<p>Memang, kereta tiba terlambat 15 menit di Solo (dariBandung). Tapi tiba diSurabayatepat waktu. Rupanya keterlambatan itu bisa dikejar di rute Solo-Madiun. Pada rute ini (juga rute Jogja-Solo) kereta kita bisa melaju 100 km/jam. Ini baru separo kecepatan kereta cepat generasi pertama Tiongkok.</p>
<p>Rute selebihnya lebih rendah lagi. Banyak rute yang keretanya hanya bisa berjalan 80 km/jam. Bahkan untuk rute Malang-Blitar hanya bisa jalan 50 km/jam. Lingkungan dan konsidi rel tidak lagi memungkinkan untuk lebih cepat lagi.</p>
<p>Tentu saya akan terus mengikuti perkembangan infrastruktur kereta api ini. Baik di Tiongkok maupun di dalam negeri. Saya pasti ingin tahu bagaimana Tiongkok mencari jalan keluar agar kereta api cepatnya bisa anti petir secara sempurna! Saat naik kereta cepat Beijing-Shanghai saya sempat menghitung papas an dengan kereta dari arah berlawanan setiap berapa lama. Ternyata ada yang baru lima menit sudah berpapasan. Ada juga yang baru 7 menit dan 10 menit. Berarti dari belakang pun demikian. Berarti di belakang kereta saya itu banyak sekali kereta cepat yang siap menerkam dari belakang. Alangkah bahayanya kalau system informasi dan pencegahan tabrakan otomatis antar kereta itu mengalami kerusakan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/kecelakaan-kereta-cepat-yang-mendebarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecepatan Kereta Cepat yang Amat Cepat</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/kecepatan-kereta-cepat-yang-amat-cepat/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/kecepatan-kereta-cepat-yang-amat-cepat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 10:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[kereta cepat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Tentu saya mencoba ini: naik kereta cepat jurusanBeijing-Shanghaiyang masih kinyis-kinyis. Saya memang sudah mengaguminya sejak kereta ini direncanakan. Waktu itu, sambil berbaring di rumah sakit menunggu dilaksanakannya operasi ganti hati, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Tentu saya mencoba ini: naik kereta cepat jurusanBeijing-Shanghaiyang masih kinyis-kinyis. Saya memang sudah mengaguminya sejak kereta ini direncanakan. Waktu itu, sambil berbaring di rumah sakit menunggu dilaksanakannya operasi ganti hati, saya bertekad, kalau saja diberi kesehatan dan umur panjang, saya akan mencoba kereta ini.</p>
<p>Inilah kereta cepat yang direncanakan dengan cepat dan dilaksanakan dengan cepat. Padahal, panjang jalur ini 1.350 km, hampir sama dengan Jakarta-Medan atau Jakarta-Makassar. Tepat 1 Juli lalu, bersamaan dengan hari kelahiran Partai Komunis Tiongkok, kereta ini sudah jadi dan sudah dioperasikan. Kalau saja saya tidak menjabat CEO PLN, tentu saya ingin mencobanya di hari pertama. Tapi, karena sekarang saya bukan lagi orang bebas, kesempatan itu baru datang di hari ke-18, saat saya ada urusan diChengdu,Chongqing,Beijing, danShanghai.</p>
<p>Memasuki gerbong kereta ini, saya tidak begitu kaget. Ini bukan kereta tercepat yang dimiliki Tiongkok. Juga bukan kereta termewah di negeri itu. Saya sudah mencoba kereta tercepat di dunia yang dibangun Tiongkok dengan interior yang lebih mewah: maglev! Yang kecepatannya 430 km/jam. Yang menghubungkan bandara Shanghai Pudong kekotaShanghai.</p>
<p>Saya juga sudah mencoba kereta yang kecepatannya 350 km/jam dan interiornya juga lebih mewah. Yakni, kereta cepat jurusan Tianjin-Beijing (jarak 200 km ditempuh dalam 29 menit) dan kereta cepat yang sama jurusan Shanghai-Hangzhou yang jaraknya sekitar 300 km.</p>
<p>Sebaliknya, saya juga pernah naik kereta malam tradisional di Tiongkok. Yang kecepatannya masih 120 km/jam. Yang di setiap kabinnya terdapat empat tempat tidur. Yakni, tempat tidur susun dua seperti kereta Bima jurusan Surabaya-Jakarta. Dulu jurusan Beijing-Shanghai dilayani kereta jenis ini. Jarak tempuhnya 9 jam. Harga karcisnya Rp 600.000/orang. Banyak penumpang memilih berangkat petang atau agak malam agar tiba di tujuan pagi hari dalam keadaan segar karena bisa tidur sepanjang perjalanan.</p>
<p>Meski kini sudah ada kereta cepat yang baru, kereta jenis lama itu tidak dihapus. Hanya tinggal dua kali sehari. Sedangkan jadwal kereta cepatnya 42 kali sehari. Dengan kecepatan 300 km/jam, jarak Beijing-Shanghai ditempuh 4,50 menit.</p>
<p>Harga karcis kereta ini cukup mahal: Rp 850.000/orang untuk kelas ekonomi dan Rp 1,2 juta untuk kelas eksekutif. Dengan harga segitu, tentu inilah tiket kereta yang lebih mahal daripada pesawat terbang. Tiket pesawat Beijing-Shanghai bisa diperoleh dengan harga Rp 800.000 untuk kelas ekonomi. Apalagi pada hari-hari pertama beroperasinya kereta cepat ini.Adapenerbangan yang mendiskon tiket pesawat hingga 50 persen. Sebagian karena ketakutan yang tidak berdasar, sebagian lagi memang ngeri kehilangan penumpang.</p>
<p>Setelah kereta cepat ini dua minggu beroperasi, barulah perusahaan penerbangan merasa sedikit lega. Yakni, setelah kereta cepat ini mengalami gangguan. Sistem listriknya down sebanyak empat kali. Bukan disebabkan pemadaman bergilir, tapi karena terjadi gangguan sistem. Penumpang kecewa karena kereta terlambat sampai dua jam. Ternyata memang ada yang kurang sempurna pada sistem listrik kereta ini. Terutama untuk mengahadapi cuaca ekstrem: badai atau petir. Banyak penumpang yang kembali memilih pesawat. Perang diskon pun tidak terjadi lagi. Tarif pesawat kembali normal.</p>
<p>Susunan kursi di kereta ini mirip dengan di pesawat, tapi lebih lapang. Jarak dengan kursi depannya sangat longgar. Dengan kursi seperti itu, banyak penumpang yang langsung terlelap. Apalagi tidak ada gangguan suara glek-glek, glek-glek, glek-glek dari rodanya.</p>
<p>Di tengah lelapnya penumpang itu, tiba-tiba banyak yang terbangun. Yakni, ketika dari balik pintu yang memisahkan satu gerbong dengan lainnya terdengar teriakan orang yang sangat keras dengan nada marah yang hebat. Ketika pintu tertutup, suara itu hilang. Tapi, setiap pintu terbuka karena ada orang yang hendak ke toilet, suara itu kembali mengagetkan seluruh penumpang. Tiga jam lamanya orang itu berteriak-teriak seperti itu di telepon genggamnya. Tanpa henti. Dari kata-katanya dengan jelas bisa diketahui bahwa dia sedang bertengkar dengan ceweknya. Entah istri, entah pacar. Dia mengutuk habis-habisan ceweknya yang keluar rumah sampai jam 02.00. Dan segudang maki-makian lainnya.</p>
<p>Saya sendiri tidak menghiraukan. Saya memang memutuskan untuk tidak tidur sepanjang perjalanan ini. Tapi, itu karena saya ingin tahu apa saja yang terjadi sepanjang perjalanan. Saya juga berjalan-jalan ke gerbong ekonomi, ke gerbong restoran, dan ke toiletnya yang dua macam itu: duduk dan jongkok.</p>
<p>Tentu saya juga ingin tahu bagaimana kalau kereta ini melewati stasiun besar. Apakah tetap dengan kecepatan 300 km/jam atau dilambatkan. Stasiun besar pertama yang harus dilewati adalah Tianjin, kota yang saya pernah lama tinggal di sana. Memang tidak semua kereta cepat singgah di Tianjin. Yang saya naiki ini, GT 98, yang berangkat jam 16.00 dari Beijing, termasuk yang tidak berhenti di Tianjin.</p>
<p>Ternyata untuk kereta yang tidak perlu berhenti di Tianjian tidak perlu melewati stasiunnya.Adarel khusus yang mem-by-pass. Keretanya tidak perlu masukkotaTianjin, melainkan melambung di luarkota.</p>
<p>Meski jalur kereta Beijing-Shanghai ini melewati banyakkota, yang saya naiki ini hanya berhenti di dua stasiun:Jinan(ibukotaProvinsiShandong) danNanjing(ibukotaProvinsi Jiangshu).</p>
<p>Ke depan, banyak sekali jalur kereta cepat jarak jauh seperti ini dibangun di seluruh Tiongkok. Tiongkok tidak akan lagi mengembangkan kereta maglev yang kecepatannya 430 km/jam. Terlalu mahal. Juga tidak lagi mengembangkan kereta dengan kecepatan 350 km/jam seperti jurusan Beijing-Tianjin karena terlalu boros listrik.</p>
<p>Menurut hasil studi di Tiongkok, kecepatan kereta yang paling ekonomis adalah 270 km/jam. Dari segi kecepatan sudah sangat cepat. Dari segi pemakaian listrik masih maksimal. “Kalau ingin kereta dengan kecepatan 350 km/jam atau lebih, sebaiknya tidak boleh lagi dengan sistem roda yang menempel di rel,” ujar hasil studi itu. Sepanjang masih menggunakan sistem roda yang menempel di rel, sebaiknya kecepatan maksimal 270 km/jam.</p>
<p>Itu ada pengecualian. Kecepatan 300 km/jam masih ekonomis manakala ditemukan sistem penghemat listrik. Sebenarnya beban listrik yang sangat besar terjadi saat kereta mulai berangkat. Tarikan pertama di setiap stasiun itulah yang memakan banyak listrik. Untuk menghindari hal itu, Tiongkok sedang menyiapkan sistem baru: jangan ada kereta yang berhenti di stasiun. Cukup mengurangi kecepatannya sambil “menyaut” gerbong baru yang sudah disiapkan berikut penumpangnya di stasiun itu.</p>
<p>Kalau sistem itu nanti berhasil, penumpang di suatu stasiun sudah harus naik gerbong sebelum kereta tiba di situ. Gerbong tersebut letaknya di atas dan harus siap digendong kereta yang segera menyautnya di stasiun itu. Dengan demikian, keharusan berhenti di stasiun bisa dihindari dan konsumsi listrik bisa lebih kecil.</p>
<p>Kini juara I, juara II, dan juara III kereta tercepat di dunia ada di Tiongkok. Ini kian meneguhkan posisi negara itu sebagai calon superpower baru. Kian bulat pendapat ahli yang mengatakan bahwa Tiongkok akan berhasil melampaui Amerika Serikat tahun 2016. Tidak lama lagi. Pada tahun itu, size ekonomi Tiongkok naik USD 8 triliun, dari USD 11 triliun saat ini menjadi USD 19 triliun pada tahun 2016. Sedangkan zise ekonomi Amerika Serikat hanya naik USD 3 triliun, dari USD 15 trilun saat ini menjadi USD 18 triliun pada tahun 2016. Semoga saya masih bisa menyaksikannya!</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/kecepatan-kereta-cepat-yang-amat-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Dua Pondasi Tanpa Banyak Bunyi</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/membangun-dua-pondasi-tanpa-banyak-bunyi/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/membangun-dua-pondasi-tanpa-banyak-bunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 07:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[membangun pondasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Meski sudah 1,5 tahun saya jadi direktur utama tapi belum juga hafal singkatan penting di PLN yang satu ini : P2APST. Singkatannya saja tidak hafal apalagi kepanjangannya! Padahal sesekali saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Meski sudah 1,5 tahun saya jadi direktur utama tapi belum juga hafal singkatan penting di PLN yang satu ini : P2APST. Singkatannya saja tidak hafal apalagi kepanjangannya! Padahal sesekali saya harus mengucapkannya. Misalnya kalau lagi rapat direksi. Setiap kali harus mengucapkannya saya harus menengok dulu ke Pak Murtaqi Direktur Bisnis dan Manajemen Resiko. Beliaulah yang paling fasih mengucapkan singkatan itu karena memang beliau yang membidani kelahirannya merancang sistemnya dan dengan antusias mengembangkannya. Biar pun tidak hafal singkatannya saya sangat paham kegunaannya : agar pembayaran listrik bisa dilakukan secara on-line real time dan terpusat. Inilah sistem untuk mengakhiri zaman pembayaran listrik tradisional : antri di loket PLN berjam-jam setiap menjelang tanggal 20.</p>
<p>Tentu tujuan utamanya bukan untuk menghilangkan antrian itu.Adayang lebih mendasar: agar uang yang masuk ke PLN bisa terkontrol rapi sejak dari pembayaran oleh pelanggan sampai ke kas perusahaan di kantor pusat. Jangan lagi ada sistem uang dibayarkan di loket ranting baru disetorkan ke cabang lalu ke wilayah lalu ke pusat. Apalagi kalau pencatatan uang itu dilakukan secara manual dan transfer ke jenjang-jenjang berikutnya masih secara tradisional.</p>
<p>Lebih hebat dari itu sistem apa tadi —eh P2APST– itu mampu langsung tersambung ke komputer yang memproses pekerjaan keuangan berikutnya : pembuatan laporan dan audit. Maka, dengan sistem ini proses keuangan di PLN menjadi sangat terkontrol, canggih dan modern. Sudah bisa dipertandingkan dengan perusahaan kelas dunia lainnya.</p>
<p>Manfaat besar lain dari sistem ini adalah : menyelamatkan teman-teman PLN di seluruhIndonesiadari resiko terperosok lubang yang dalam. Peluang untuk menyeleweng bagi ribuan kasir PLN di seluruh pelosok nusantara menjadi hilang. Peluang untuk terjadinya sebuah kolusi juga berkurang.</p>
<p>Banyak sekali kasus seseorang itu mula-mula sangat jujur dan terpercaya. Dia berubah menjadi penyeleweng semata-mata karena diberi peluang untuk itu. Dalam kasus seperti ini mungkin dosa perbuatan tersebut harus dipikul bersama antara yang menyeleweng dan yang memberikan peluang untuk menyeleweng.</p>
<p>Tapi dengan sistem yang satu itu peluang untuk terjadi penyalahgunaan keuangan kian tertutup. Dengan sendirinya. Kadang sistem memang lebih efektif mencegah kejahatan daripada khotbah –terutama untuk hal-hal yang manusiawi seperti itu. Semoga pencipta sistem anti-kejahatan juga mendapatkan pahala sama besar dengan para pengkhotbah. Maka tak salah bila banyak tokoh Islam yang menyebutkan Amerika Serikat itu lebih islami dari banyak negara berpenduduk mayoritas Islam. Ini antara lain karena banyaknya sistem disanayang menutup peluang orang untuk berbuat jahat.</p>
<p>Tentu masih banyak manfaat lain dari P2APST yang terlalu panjang untuk dirinci di sini. Yang pasti P2APST harus dicatat dalam sejarah PLN. Bahwa kita di tahun 2011 ini sudah mampu mengubah sistem pengelolaan pembayaran rekening listrik yang semula sangat ruwet itu.</p>
<p>Sebenarnya P2APST direncanakan baru akan berhasil diterapkan di seluruhIndonesiaakhir tahun 2012. Namun berkat kerja keras dan kerja cerdas teman-teman PLN di bawah komando Pak Murtaqi ini P2APST bisa diselesaikan bulan lalu. Maju 1,5 tahun! Wilayah sejauh, seterpencil dan serumit Papua pun sudah melaksanakan P2APST.</p>
<p>Maka sejak Juli ini, kalau ada orang di Kaimana, atau Nabire, atau Wamena yang hari ini membayar listrik, hari ini juga, jam ini juga, uangnya sudah sampai di Bu Tjutju Kurnia yang berkantor di lantai 6 PLN Pusat di Jakarta. Ketika semua direksi rapat kerja di Melak, pedalaman Kaltim, dua minggu lalu sistem ini juga sudah bisa berjalan di “ibukota” suku Dayak itu. Warga di tengah hutan itu bisa membayar listrik di agen-agen pembayaran melalui sistem komputer dan uangnya langsung masuk ke sentral keuangan. Maka sekarang ini, Bu Tjutju sudah bisa tahu persis berapa uang masuk setiap hari dari seluruhIndonesia. Tidak lagi tergantung dari laporan yang berjenjang itu.</p>
<p>Saya sangat bersimpati pada teman-teman PLN yang menyiapkan dan mengembangkan sistem ini. Kerjanya siang malam tapi tidak banyak orang yang tahu. Inilah mereka yang bekerja secara diam-diam tapi menghanyutkan! Inilah teman-teman PLN yang bekerja keras tapi tidak akan pernah mendapat apresiasi secara luas. Kerja ikhlas lebih menonjol di sini.</p>
<p>Dengan selesainya P2APST masih ada pekerjaan berikutnya yang menanti kita. Kali ini menjadi giliran teman-teman yang ada di jajaran distribusi di seluruhIndonesia: mencocokkan jumlah kWh yang tersalur dengan berapa besar uang masuk yang seharusnya. Tanpa P2APST pengecekan seperti itu akan memakan energi yang luar biasa dan belum tentu kita mampu melakukannya. Tapi, sekarang, dengan sistem itu teman-teman di jajaran distribusi bisa lebih fokus untuk melihat pelanggan mana yang pembayaran listriknya tidak sesuai dengan jumlah kWh yang tersalur dari jaringan tegangan menengah di suatu lokasi.</p>
<p>Satu lagi pondasi penting yang lagi dibangun di PLN : Si Ujo. Teman-teman di jajaran SDM sedang menyiapkan program uji kompetensi untuk seluruh karyawan PLN. Inilah pekerjaan berat yang untuk menyelesaikannya diperlukan kecerdasan dan ketekunan. Inilah pekerjaan besar yang jauh dari pujian banyak orang.</p>
<p>Sistem uji kompetensi yang dirancang ini tidak kalah canggih dengan P2APST. Penyiapannya sudah selesai. Uji coba sudah dilakukan. Tinggal pelaksanaan uji kompetensinya saja yang Insya Allah dilakukan awal September, setelah lebaran.</p>
<p>Melihat materi uji kompetensi itu saya bisa membayangkan betapa besar pekerjaan ini. Kalau pemrakarsanya tidak memiliki passion yang tinggi tidak mungkin bisa terwujud. Begitu komplit materinya (untuk semua sektor pekerjaan di PLN) dan begitu canggih sistemnya. Sampai-sampai di dalam hati saya terpikir: alangkah cocoknya kalau ujian nasional sekolah menggunakan system Si Ujo ciptaan teman-teman direktorat SDM PLN ini.</p>
<p>P2APST dan Si Ujo adalah dua pondasi penting PLN yang ikut menentukan kejayaan PLN ke depan. Kalau uji kompetensi sudah terlaksana maka enam program besar utama telah terselesaikan oleh PLN tahun ini: mengakhiri krisis listrik, menyelesaikan daftar tunggu, mengakhiri wabah gangguan trafo, menerapkan P2APST di seluruh Indonesia, uji kompetensi untuk seluruh karyawan PLN dan mengakhiri wabah gangguan feeder (penyulang).</p>
<p>Bagaimana dengan mencukupi kebutuhan gas? Tentu direksi tidak akan mau kalah dengan anak buah!</p>
<p>*) P2APST : Pengelolaan dan Pengawasan Arus Pendapatan Secara Terpusat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/membangun-dua-pondasi-tanpa-banyak-bunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai Daging Babi sampai Mikro LNG</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/mulai-daging-babi-sampai-mikro-lng/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/mulai-daging-babi-sampai-mikro-lng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[daging babi]]></category>
		<category><![CDATA[mikro lng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[KalauIndonesiatahun lalu dipusingkan oleh lonjakan harga cabai, di Tiongkok kini sedang mengalami persoalan serupa. Bahkan dalam bentuk yang lebih berat: kenaikan drastis harga daging babi. Kalau harga cabai saja bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>KalauIndonesiatahun lalu dipusingkan oleh lonjakan harga cabai, di Tiongkok kini sedang mengalami persoalan serupa. Bahkan dalam bentuk yang lebih berat: kenaikan drastis harga daging babi.</p>
<p>Kalau harga cabai saja bisa membuat raport inflasiIndonesiamerah, apalagi pengaruh harga daging babi di Tiongkok. Gara-gara kenaikan harga daging babi itu, inflasi Tiongkok mengejutkan: 6,4 persen. Padahal, targetnya hanya 4 persen. Ini angka inflasi tertinggi di Tiongkok sejak 2008.</p>
<p>Setahun terakhir harga daging babi memang naik lebih 50 persen di Tiongkok, mencapai hampir Rp 35.000/kg. Seperti harga cabai diIndonesiatahun lalu, tingginya harga daging babi di Tiongkok juga menjadi pembicaraan yang meresahkan masyarakat hampir di seluruh negeri. Sampai-sampai pemerintah memutuskan untuk melepaskan cadangan daging babi nasional. Saat harga daging babi murah tahun lalu,  pemerintah memang membuat lumbung daging babi. Tapi,  jumlahnya belum sempat besar, baru 200.000 ton. Padahal, keperluan daging babi seluruh Tiongkok mencapai 40 juta ton setahun. Cadangan itu hanya cukup untuk keperluan satu hari saja!</p>
<p>Seperti juga cabai, mengatasi persoalan ini tidak mudah. Rangsangan untuk para peternak babi memang sudah diberikan. Tapi, untuk menunggu babi sampai bisa dijual di pasar, perlu waktu 1 tahun. Kalau persoalan cabai bisa diatasi dengan impor cabai besar-besaran (meski orangIndonesiamengeluh bahwa cabai impor kurang pedas), persoalan kurangnya daging babi di Tiongkok tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama. Harga daging babi di luar negeri lebih mahal. Di Surabaya, misalnya, harga daging babi mencapai Rp 60.000/kg atau hampir dua kali lipatnya. Maka, sampai Imlek tahun depan, tidak ada harapan harga daging babi turun drastis.</p>
<p>Adakegelisahan lain di Tiongkok: wanitanya kian menyukai melahirkan dengan cara cesar. Persentasenya naik secara drastis dalam waktu yang singkat. Kini 51 persen wanita Tiongkok melahirkan dengan cara cesar. Ini merupakan persentase  tertinggi di dunia. Amerika Serikat saja, yang metode cesarnya sudah sangat lama, baru mencapai 30 persen.</p>
<p>Kenyataan itu dipicu oleh banyak hal. Terutama oleh banyaknya rumah sakit yang karena tuntutan bisnis merangsang wanita untuk melakukan cesar. Juga disebabkan oleh majunya teknologi yang membuat cesar lebih menjamin keselamatan bayi yang dilahirkan. Padahal, wanita di Tiongkok hanya boleh punya satu anak sehingga harta satu-satunya itu harus lahir sempurna.</p>
<p>Memang kebijakan hanya boleh punya satu anak sudah mulai dilonggarkan. Penduduk minoritas boleh punya anak banyak. Penduduk pedesaan yang memerlukan tenaga kerja muda untuk pertanian boleh memiliki dua anak sepanjang anak pertamanya perempuan dan jaraknya harus tujuh tahun. Kini kebijakan itu melonggar lagi untuk wilayah tertentu: boleh punya dua anak sepanjang bapak dan ibunya adalah anak tunggal. ProvinsiGuangdong, misalnya, kini minta kelongaran seperti itu karena kian sulitnya mendapatkan tenaga kerja.</p>
<p>Dulu, untuk provinsi yang ekonominya luar biasa ini, bisa dengan mudah mendapatkan buruh dari daerah-daerah pedalaman. Kini, dengan pembangunan besar-besaran di daerah pedalaman, merantau keGuangdongtidak lagi menarik.</p>
<p>“Dulu mimpi setiap anak yang baru lulus sekolah adalah pergi keGuangzhouatau Shenzhen,” ujar seorang manajer pabrik mesin perminyakan diChongqing, pedalaman Tiongkok, saat saya ajak ngobrol tentang ini Jumat lalu di kantornya diChongqing. “Sekarang mimpi seperti itu tidak ada lagi,” katanya.</p>
<p>Kota Chongqing sendiri (dulu dikenal dengan sebutan Chunking) memang sudah berkembang menyerupai Shenzhen. Hutan pencakar langitnya, bandaranya, stasiun keretanya, monorelnya, jaringan jalan tolnya, hampir sudah tidak bisa dibedakan dengankotabesar lain di Tiongkok.</p>
<p>Kali ini saya keChongqinguntuk melihat teknologi mengubah gas menjadi benda cair (LNG) dan teknologi memadatkan gas (CNG). Dengan teknologi ini, gas bisa disimpan untuk dipakai di saat masyarakat menggunakan listrik terbanyak pada pukul 17.00-22.00. Ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk menghindari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat-sangat mahal itu.</p>
<p>Dulu teknologi LNG dan CNG memang seperti kemewahan yang sulit dijangkau. Bayangan kita, membangun LNG itu harus seperti Bontang atau Tangguh atau Arun. Padahal, kini teknologi itu sudah lebih terjangkau. Bukan saja sudah ada mini LNG, bahkan sudah ke tingkat mikro LNG. Sedangkan kita, jangankan mini LNG. CNG pun, kita belum menggunakannya. Akibatnya,  kita terus terbelit untuk menggunakan BBM yang mahal. Padahal, seperti di Tiongkok ini, mikro CNG sudah digunakan sejak 20 tahun lalu. Waktu itu saya sudah meninjaunya di banyak daerah di Tiongkok seperti diQingdao.</p>
<p>Ketika di Chongqing sekarang ini, saya melihat perkembangan mikro LNG dan CNG yang tidak terbendung lagi. DikotaChongqingsaja kini sudah ada 80 buah stasiun bensin yang menggunakan CNG. Kian banyak mobil yang tidak menggunakan BBM lagi. Bahkan, kini sedang dibangun stasiun mikro LNG yang kapasitasnya hanya 30 m3.</p>
<p>Ketika saya meninjaunya, proyek ini sedang diselesaikan. Tangkinya sudah terpasang, instalasi pengubah gas cair menjadi gas biasa (regasifikasi) juga sudah ada di tempatnya. Dari sini,  LNG dialirkan ke stasiun pengisian gas yang ada di sebelahnya sehingga taksi atau buskotabisa mendapatkan gas dari LNG itu. Saya bayangkan bagaimana kalau pembangkit listrik di daerah-daerah kecil menggunakan teknologi itu. Hanya dengan empat  buah mikro LNG seperti itu, pembangkit listrik sebesar 5 MW bisa berjalan selama sebulan. Atau cukup dengan satu mikro LNG yang kapasitas tangkinya empat kali lipat dari itu. Kini sudah tersedia tangki dengan ukuran 30 m3, 40 m3, 60 m3,  dan 150 m3.</p>
<p>Semangat saya lebih berkibar lagi manakala pergi ke Kota Chengdu, ibukotaProvinsi Sechuan. Meski tujuan saya sama, yakni untuk melihat pabrik lain yang bergerak di bidang mini-mikro CNG dan LNG, tapi di situ saya mendapat penjelasan mengenai teknologi baru yang setengah tidak bisa dipercaya. Mereka menemukan teknologi mengubah udara menjadi benda cair dengan menggunakan kekuatan listrik.</p>
<p>Setelah udara menjadi benda cair, pada jam-jam beban puncak (17.00-22.00) cairan tersebut diubah lagi menjadi udara. Proses perubahan ini bisa untuk memutar turbin dengan efisiensi 60 persen. Memang ini sedikit lebih rendah daripada  persentase teknologi hydro pumped storage seperti yang akan dibangun PLN di Jawa Barat, namun banyak sekali kelebihannya. Kalau pumped storage memerlukan masa pembangunan sampai lima tahun, ini hanya 1 tahun. Kalau pumped storage tergantung lokasi dan jarang ada lokasi seperti itu, ini bisa dilakukan di mana saja.</p>
<p>Teknologi ini sekarang lagi dipasang di London, Inggris, dengan kapasitas 20 MW. “Akhir Agustus ini sudah bisa dilihat hasilnya,” ujar pemilik teknologi di Kota Chengdu tersebut saat rapat bersama tim PLN di kantornya.</p>
<p>Dengan gambaran seperti itu, perang melawan bahan bakar minyak (BBM) rasanya benar-benar siap dimulai di PLN. Musuh nomor 5 PLN ini harus sudah tumbang tahun depan. Seperti yang sudah saya kemukakan, musuh nomor 1 PLN (krisis listrik) sudah teratasi. Demikian juga musuh nomor 2 (daftar tunggu) dan musuh nomor 3 (wabah kerusakan trafo). Tahun ini musuh nomor 4 (wabah gangguan jaringan) akan selesai. Tahun depan musuh nomor 5 itu, yang mengakibatkan PLN boros triliunan rupiah, semoga menyusul tumbang.</p>
<p>Begitu banyak senjata yang bisa disiapkan untuk memerangi BBM itu. Keterlaluan juga kalau BBM begitu saktinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/mulai-daging-babi-sampai-mikro-lng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembukaan SEA Games dan Ayam Mati Itu</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/pembukaan-sea-games-dan-ayam-mati-itu/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/pembukaan-sea-games-dan-ayam-mati-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[ayam mati sea games]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Meski bukan lagi direktur utama PLN, saya masih berdebar-debar saat menonton siaran langsung pesta pembukaanSEAGames kemarin malam. Terutama setelah menyaksikan begitu gemerlapnya pesta pembukaan itu. Begitu mandi cahayanya pembukaan itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Meski bukan lagi direktur utama PLN, saya masih berdebar-debar saat menonton siaran langsung pesta pembukaanSEAGames kemarin malam. Terutama setelah menyaksikan begitu gemerlapnya pesta pembukaan itu.</p>
<p>Begitu mandi cahayanya pembukaan itu. Begitu besar listrik yang diperlukan untuk pembukaan itu. Begitu vitalnya pasokan listrik malam itu. Betapa kacaunya bila listriknya bermasalah.</p>
<p>Sambil mengagumi pesta cahaya pembukaan itu, saya terus berdoa agar tidak ada masalah dengan listriknya. Maklum, dua tahun lalu Palembang adalah salah satu daerah yang paling berat krisis listriknya.</p>
<p>Provinsi Sumsel merupakan salah satu di antara lima provinsi yang selalu diejek sebagai “ayam mati di lumbung”. Bagaimana bisa provinsi yang begitu kaya dengan gas, minyak, dan batu bara mengalami krisis listrik berkepanjangan.<span id="more-151"></span></p>
<p>Saya menonton siaran langsung itu di tempat yang jauh. Di Kota Ruteng, pedalaman Flores. Sebuah kota di atas gunung dengan suhu udara 20 derajat Celsius yang sangat sejuk. Nonton bareng itu dilakukan di ruang tamu Kantor Bupati Manggarai Tengah. Bupati, wakil bupati, ketua DPRD, ketua pengadilan, Kapolres, Dandim, dan pejabat tinggi setempat ikut nonton bareng.</p>
<p>Semuanya menyatakan kekaguman atas kemegahan acara pembukaan yang dihadiri Presiden SBY itu. Mereka tidak menyangka bahwa pembukaanSEAGames bisa semeriah dan segemerlap itu.</p>
<p>Yang membuat saya ikut kagum adalah ini: Pesta megah itu berlangsung bukan di Jakarta. Bukan pula di Bandung atau Surabaya. Bukan di Makassar atau Medan. Tapi, kemegahan itu terjadi di Palembang!”</p>
<p>Orang yang belum pernah ke Palembang mungkin memang mengira bahwa Palembang hanya punya Jembatan Ampera. Atau hanya punya pempek. Tapi, orang yang sering ke Palembang seperti saya bisa menjadi saksi betapa pesatnya kemajuan kota itu. Sejak sepuluh tahun lalu pun, saya sudah mengira bahwa Palembang akan menjadi kota terpenting di Sumatera. Bahkan, akan bisa mengalahkan Medan. Kecuali, Sumut memiliki pemimpin yang punya ambisi mempertahankan kebesaran Medan.</p>
<p>Sayang, gambaran seperti itu masih jauh dari harapan. Saya ikut merasakan betapa sulitnya mengurus perizinan listrik di Sumut. Kalau saya saja mengalami kesulitan, logikanya, alangkah sulitnya pihak-pihak lain berusaha di sana.</p>
<p>Itu sangat kontras dengan yang terjadi di Sumsel. Gubernur-gubernur Sumsel selama ini dikenal bekerja dengan penuh gairah untuk kemajuan Sumsel. Apalagi, Alex Nurdin yang sekarang ini.</p>
<p>Pesta pembukaanSEAGames kemarin malam telah menimbulkan kepercayaan diri yang besar di hati bangsa Indonesia. Ternyata, kita juga bisa. Bahkan, pesta kemarin malam akan menggugah banyak pemimpin daerah untuk bangkit bersama-sama. Kalau semua pimpinan daerah terjangkiti semangat kemarin malam, alangkah majunya Indonesia secara keseluruhan. Bukan hanya seperti gambaran selama ini, Indonesia hanya maju di Jakarta-nya.</p>
<p>Sumsel sendiri akan tercatat sebagai provinsi pertama di antara lima provinsi “ayam mati di lumbung” yang bisa keluar dari ejekan memalukan itu. Akhir tahun ini produksi listrik di Sumsel sudah melebihi keperluan wilayah tersebut. Sumsel sudah bisa “mengekspor” listrik dalam jumlah yang besar ke Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Riau.</p>
<p>Pesta kemarin malam secara tidak langsung juga merupakan deklarasi bahwa krisis listrik di Sumsel telah berakhir. Jangan gunakan lagi ejekan “ayam mati di lumbung” untuk menghina Sumsel.</p>
<p>Zaman memang berputar. Pada zaman dulu Palembang memang menjadi kota terbesar di seluruh Sumatera. Palembang yang dalam bahasa Mandarin lebih dikenal dengan nama Jigang (berarti bandar yang sangat besar) lama-lama mengalami kemunduran atau dikalahkan wilayah lain. Barangkali kini giliran roda Palembang kembali berada di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/pembukaan-sea-games-dan-ayam-mati-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PLTS Bunaken Model untuk 100 Pulau Lain</title>
		<link>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/plts-bunaken-model-untuk-100-pulau-lain/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/plts-bunaken-model-untuk-100-pulau-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 07:46:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[plts bunaken]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.net/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Genset Dibongkar Disedekahkan ke Masjid Inilah perjalanan yang happy ending. Meski awalnya menghadapi persoalan berat di Gorontalo, tapi bisa diakhiri dengan melihat proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Genset Dibongkar Disedekahkan ke Masjid</p>
<p>Inilah perjalanan yang happy ending. Meski awalnya menghadapi persoalan berat di Gorontalo, tapi bisa diakhiri dengan melihat proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di pulau Bunaken yang menyenangkan.</p>
<p>Kini memang lagi dicoba dua model pengembangan PLTS. Dua-duanya sudah beroperasi selamalimabulan. Sudah bisa dievaluasi baik-tidaknya. Model pertama berupa lampu Sehen yang dicoba di pedalaman Sumba Barat Daya. Model kedua dicoba dilimapulau termasuk pulau Bunaken di Sulut ini.</p>
<p>Model Sehen dirancang untuk desa-desa pedalaman yang rumahnya terpencar” seperti diNTTatau Papua. Model Bunaken didesain untuk pulau-pulau kecil yang terpencil yang jumlahnya ribuan itu.</p>
<p>Kesimpulannya: dua model ini sangat oke. Tidak ditemukan kelemahan mendasar. Masyarakat di dua wilayah tersebut juga menyenanginya. Maka model Sehen akan segera dimasalkan diNTT. Sedang model Bunaken segera dipakai di 100 pulau tahun ini juga. Kelak, 1000 pulau akan menyusul.</p>
<p>Perjalanan ke Bunaken Rabu lalu itu saya mulai dari Gorontalo. Meski baru mendarat pukul 21.00 kami langsung ke kabupaten Bone Bolango meninjau proyek PLTU di pantai teluk Tomini itu. Pertemuan dengan karyawan PLN Gorontalo baru dilakukan keesokan harinya pukul 05.00 sekalian dengan olahraga jalan pagi. Menjelang matahari terbit itu, dengan cara duduk lesehan di halaman, kami membicarakan keluhkan masyarakat setempat: seringnya listrik padam.</p>
<p>Mati lampu seperti itu seharusnya tidak sering terjadi lagi. Penyebab utamanya, yakni krisis listrik, sudah teratasi tahun lalu. Kerusakan-kerusakan trafo juga sudah sangat minim. Tapi mengapa masih sering mati lampu di Gorontalo” Yang kalau dijumlah di seluruh propinsi, masih tercatat 223 kali mati lampu di bulan Juni 2011?</p>
<p>Tidak sulit mencari tahu penyebab mati lampu itu. Penyebabnya tinggal satu: gangguan feeder (penyulang). Yakni terganggunya jaringan listrik. Karena tinggal inilah persoalan yang dihadapi maka semua karyawan sepakat bisa mengatasinya” dalam tiga bulan (Juli-Agustus-September). Bahkan pimpinan wilayah PLN Sulut-Sulteng menetapkan harus selesai sebelum datangnya bulan puasa yang tinggal kurang sebulan lagi. Bulan puasa termasuk bulan yang memerlukan pelayanan listrik secara khusus di Gorontalo.?</p>
<p>Meski penyebabnya satu, rintangannya cukup banyak. Misalnya ada jaringan yang panjangnya 160 km yang melewati hutan lindung. Ranting-ranting pohon yang menimpa jaringan listrik di situ tidak boleh dipotong. Ada UU yang mengatakan barang siapa memotong pohon di hutan lindung masuk penjara.</p>
<p>Begitu matahari terbit kami meninggalkan Gorontalo. Tidak sempat makan pagi tapi ada nasi kuning dan jagung rebus di dalam mobil. Inilah perjalanan panjang, berliku dan melelahkan. Tentu kami mampir-mampir di proyek dan di kantor ranting. Di ranting PLN Kwandang misalnya, saya lihat ada genset di belakang kantor. Saya minta genset itu dibongkar dan disedekahkan ke masjid terdekat. Kantor pelayanan PLN tidak boleh punya genset. Itu sama saja artinya tidak mempercayai pelayanan listriknya sendiri. Biarlah kantor PLN ikut mati lampu agar bisa merasakan penderitaan orang yang listriknya mati.</p>
<p>Di ranting Bolaang Mongondow Utara seorang ibu melaporkan prestasinya. Selama enam tahun menjadi manajer keuangan di situ tunggakan pembayaran listriknya nol! Hebat! “Tapi pangkat saya tidak naik-naik pak,” katanya. Saya pun mencatat namanya di dalam hati.</p>
<p>Di Baroko ada proyek penting yang hampir selesai. Gardu Induk di Baroko melakukan energise. Ini berarti transmisi dari Bitung sampai Gorontalo yang panjangnya 400 kms itu sudah bisa nyambung. Gorontalo yang 10 tahun lalu memisahkan dari dari Sulut pun kini tersambung lagi, di sektor listriknya.</p>
<p>Setelah delapan jam perjalanan, kami tiba di Motong, dekat Kotamubago. Kami mampir ke pembangkit listrik tenaga minihydro yang lokasinya di tengah pepohonan kelapa. Bulan lalu PLTM ini tenggelam oleh banjir. Untungnya pimpinan PLN Kotamubago sangat trampil. Dalam waktu seminggu PLTM ini berfungsi kembali. Peristiwa ini sangat menyedihkan teman-teman PLN Kotamubago karena seperti ikut menenggelamkan prestasi mereka selama ini. Yakni prestasi terbaik dalam menangani gangguan trafo maupun penyulang.</p>
<p>Di Motong kami memperoleh kenikmatan luar biasa –kenikmatan yang malamnya membawa sengsara. Ibu-ibu PLN di situ menyajikan makanan yang enaknya luar biasa: lembaran daun papaya yang digulung bersama daun singkong dengan bumbu-bumbu tertentu di dalamnya. Dimakan dengan udang goreng dan ikan rica-rica pedas, nikmatnya ampun-ampun.<br />
Apalagi laparnya sudah berlebihan karena sudah lewat pukul 14.00. Saya pun makan bertambah-tambah. Bahkan saya tidak malu untuk minta dibungkuskan, untuk makan malam di perjalanan!</p>
<p>Kami pun meneruskan perjalanan ke Kotamubago dengan perut sangat kenyang. Inilah satu-satunyakotadi seluruh Indonesia Timur yang belum saya kunjungi. Saya memang pernah ke sini, tapi 30 tahun lalu ketika menyiapkan koran pertama di Sulut. Kini Kotamubago majunya bukan main. Pantas disediakan listrik berapa pun selalu kurang!</p>
<p>Pukul 16.00 kami masih di Kotamubago. Makan siang di Motong tadi terlalu lama. Kami pun memperkirakan tengah malam baru akan tiba di Manado. Ini karena masih ada satu proyek lagi di Amurang yang menanti. Benar. Pukul 23.00 kami baru tiba diManado. Perjalanan ini ternyata bukan 16 jam, tapi 18 jam!?</p>
<p>Tentu, saya memimpikan tidur yang lelap. Keesokan harinya harus bangun pagi-pagi untuk melihat PLTS Bunaken. Tapi baru satu jam memejamkan mata, perut saya berontak! Beberapa kali ke toilet tetap saja rasa mulas tidak berhenti. Hampir tiap jam saya harus ke belakang. Saya periksa isi toilet itu agar bisa tahu apakah ada yang berbahaya. Isinya ternyata daun singkong semua!</p>
<p>Menjelang pukul 05.00 saya mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan ke Bunaken. Apalagi saya sempat sempoyongan. Tapi teman-teman sudah menunggu di loby. Saya sendiri memang harus kesana. Inilah PLTS yang akan jadi model untuk pembangunan proyek serupa di 100 pulau tahun ini dan kelak di 1000 pulau. Kalau proyek ini ternyata tidak baik biarlah bisa segera dibatalkan kelanjutannya.</p>
<p>Tiba di dermaga Bunaken saya jalan sangat cepat menuju lokasi proyek. Teman-teman mengira saya begitu bersemangatnya. Padahal saya punya maksud tersendiri: ingin cepat-cepat ke toilet. Untuk keenam kalinya.?</p>
<p>Perut saya memang masih menyimpan persoalan tapi PLTS di Bunaken ini” berfungsi dengan baik. Layak untuk contoh 100 pulau lainnya. Saya pun banyak bicara dengan anak muda yang menjadi penganggungjawab PLTS itu. Juga memeriksa data selama lima bulan. Termasuk melihat kotoran apa saja yang suka singgah ke panel surya dan bagaimana cara membesihkannya. Bahkan saya minta dilakukan pembersihan saat itu agar bisa tahu tingkat kesulitannya. Ternyata tidak sulit. Saya sendiri mencoba naik tangga untuk mempraktekkan cara pembersihan panel surya.</p>
<p>Selama lima bulan itu hanya sekali terjadi gangguan, tapi sangat kecil. Yakni ketika mcb (Mini Circuit Breaker) tidak bisa off. Tapi begitu alatnya diganti langsung teratasi. Gangguan terbanyak justru dari luar: dari penyulang yang terganggu pohon.</p>
<p>Kelelahan dua hari, ditambah hilangnya cairan yang terlalu banyak, ditambah sudah selesainya misi perjalanan ini, membuat keadaan asli badan saya muncul: lemas. Saya bergegas dibawa ke kapal, dijemput dokter dan diistirahatkan di hotel.</p>
<p>Memang masih ada satu acara, tapi masih beberapa jam lagi: saya harus menemui Gubernur Sulut Bapak Sinyo Sarundayang. Ini untuk membicarakan penyelamatan danau Tondano yang terancam pendangkalan sangat cepat. Ini danau legendaris kebanggaan masyarakat Sulut yang harus diselamatkan. Juga karena Danau Tondano menjadi sumber air bagi PLTA Tonsea yang menghasilkan listrik 50 MW untuk wilayah itu. Gubernur bertekad memulihkan danau itu. PLN menyediakan kapal keruknya.?</p>
<p><a href="http://jpnn.com" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.net/dahlan-iskan/plts-bunaken-model-untuk-100-pulau-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

